Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal, terdampar di
pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan
menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan
pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.
Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung
untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang
masih dia punyai.
Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan
mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling
parah, hilanglah semuanya. Dia sedih dan marah.
"Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis.
Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati
pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.
"Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada
penyelamatnya.
"Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.
Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk.Tetapi kita tidak
boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam
kesakitan dan kesusahan.
Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi
kuasa Tuhan.Ketika ada kejadian negative terjadi, kita harus berkata pada diri
kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian
tersebut.
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan
memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah
jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan
digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan
presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum
Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya
lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat
pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat,
bertepatan dengan tuntasnya Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf
pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak
didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya
sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin
menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain,
dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya,
''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani
menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is
OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya,
ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol
jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas
dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu,
tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik
pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif
besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng
menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut
dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian
anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik
buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata
Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya
yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang
sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan
penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang
bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh
penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia
menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan
Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski
wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian
lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu
karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian.
Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu
dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah
terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana
lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock
berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan
putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan
komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring
kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah
yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha
menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung
di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini
sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan,
kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani
memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak
bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,''
lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja
meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu
hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih
tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri
kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih
mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya.
Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin
tua.
Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja
sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
"Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco.."
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakan
Saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah
lain-lainnya.
"Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak
enak bagimu dulu." Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
"Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada
lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian
di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia
menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat
keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara-saudara
lainnya yang masih di rumah."
Ia menatap kami dan berkata, "Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku.
Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi
mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak
lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan
pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia
tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap
akan tercium bau lautan dan amisnya ikan."
Suara Frank mulai merendah sedikit.
"Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua
yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya
daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak
beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju
sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga bisa
menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu
truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti
di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan
menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah
ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang baik. Aku merasa agak
malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku
menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!"
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, "Aku ingat hari ketika kuputuskan aku
sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami sampai
kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai
memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata,
'Jangan, ayah.' Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah
tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, 'Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal.
Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.'
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya,
pandangannya menerawang menembus kaca depan. 'Kau benar,' katanya.
'Kau sudah jadi pemuda besar......seorang pria. Aku tak akan menciumimu
lagi.'"
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya,
ketika ia melanjutkan kisahnya. "Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut
dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian
besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.Ia punya
keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya
lagi masih ada dilaut.Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan
jala dan semua pengapung-pengapungnya."
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, "Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang
akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada
pipiku....untuk merasakan wajah tuanya yang kasar......untuk mencium bau air
laut dan samudra padanya.....untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul
leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku seorang
pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku
terlalu tua 'tuk sebuah ciuman selamat tinggal."
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih kita.....